4 Cara Mengatasi Rasa Insecure

Sebagai seorang ibu dan juga wanita tentu kita pernah merasa insecure. Baik karena sisi pribadi kita sendiri sebagai seorang wanita ataupun karena kekurangan-kekurangan dalam mengasuh anak serta mengurus rumah tangga. Kemudian akan merasa rendah diri ketika melihat ibu lain dengan segala prestasi dan kecakapan yang dimilikinya. Bagaimana sih mengelola rasa insecure agar tidak semakin berlarut-larut dan membuat frustasi?

Ibu, Media Sosial, dan Perasaan Insecure

Salah satu tontonan anak-anak yang membuat saya merasa insecure adalah Nussa Rara. Disana digambarkan sosok Umma yang begitu sabar kepada anak-anak dalam segala kondisinya. Kemudian saya langsung berkaca pada diri saya sendiri sambil menghitung berapa banyak omelan yang saya luncurkan sejak pagi tadi? Rasanya jauh sekali dengan Umma yang super sabar. Ingin sekali bisa seperti Umma yang selalu sabar kepada anak-anak.

Dalam pandangan saya, marah-marah kepada anak adalah satu kesalahan. Seperti sifatnya, kesalahan akan membuat kita merasa tidak nyaman. Akhirnya kitapun tidak fokus mengerjakan banyak hal karena pikiran dan hati kita diliputi rasa bersalah.

kegiatan bersama anak

Belum selesai mengelola rasa tidak nyaman itu, ketika membuka media sosial, secara tak sengaja kita melihat postingan salah seorang ibu yang rajin sekali membagikan dokumentasi kegiatan anaknya yang masih balita. Dengan segala kegiatan stimulasi yang Ia berikan pada anaknya dengan telaten dan konsisten lalu tak sadar kita merasa seperti remahan rengginang yang nggak ada artinya.

“Ih hebat ya dia. Rajin eksekusi ide bermain dengan anak. Saya mah orangnya gak kreatif dan gak telaten. Pingin deh bisa begitu, tapi saya nggak sabaran kalau main sama anak-anak. Palingan anak-anak saya juga gak bakal ikuti aturan mainnya”. Pikiran-pikiran sejenis ini akan terus menerus muncul ketika kita membandingkan diri kita dengan orang lain dan menstandarkan diri dengan “standar baik” yang ada di luar diri kita.

Jari manis kita mulai scroll lagi. Berharap akan mendapatkan hal yang bikin hati adem. Ah ternyata kali ini adalah foto teman kita tadi bersama suami serta anaknya. Mereka terlihat harmonis dan gemah ripah loh jinawi.

“Ah pantes aja dia rajin gitu. Suaminya support banget. Kelihatan dari pancaran wajahnya kalau mereka kompak dan saling mengisi. Suami saya mah boro-boro. Diajak cerita tentang anak juga malah bilang capek. Padahal saya kan juga capek. Padahal kan ini anak bareng-bareng tapi ko dia cuek sih? Beruntung banget dia punya suami yang support”. Semoga kita gak suka julid sama diri sendiri seperti ini ya.

Saya juga pernah dalam kondisi demikian. Saya berpikir, ah sudahlah, lihat postingan mama-mama artis aja biar adem. Ternyata perasaan jadi semakin gak karuan. Lihat deh Lesti Kejora yang langsung langsing singset gitu padahal baru aja melahirkan. Bukan malah semakin membaik, saya justru merasa ada di dunia dengan hukum alam yang berbeda. Di dunia nyata alamiahnya ibu menyusui akan banyak ngemil dan makan, maka tak jarang timbangan juga semakin naik. Saya jadi kepikiran si Lesti makan apa ya bisa langsing begitu hehehe…

Perasaan insecure adalah hal yang wajar. Terkadang insecure bisa membuat diri kita lebih baik lagi. Namun tak jarang insecure justru membuat kita semakin menjauh dari rasa syukur. Lalu apa yang bisa kita lakukan jika perasaan insecure muncul dan semakin tak terkendali?

Cara Mengatasi Insecure

Tentukan Standar

Perasaan insecure muncul karena kita membiarkan standar orang lain menjadi mindset diri kita. Walaupun tersakiti dengan definisi kecantikan yang mengatakan perempuan harus tinggi, langsing, cantik, glowing, dan bersih, namun kita juga menjadikan standar-standar itu sebagai hal yang seolah harus kita miliki.

Begitu juga dengan standar kesuksesan finansial. Seringkali kita membandingkan diri. Melihat pasangan lain yang usia pernikahannya tak terpaut jauh dengan kita sudah memiliki rumah, sementara mungkin Allah masih menghendaki kita untuk menyewa rumah dan harus pindah setiap tahunnya agar mendapat rumah sesuai dengan budget.

Melihat yang lain sudah memiliki kendaraan yang mewah, sementara kita masih diberi nikmat merasakan kesejukan angin, panas matahari dan terkadang juga merasakan jatuhnya hujan ke kulit kita ketika berpergian dengan motor. Tapi apakah kita tahu hal mana yang lebih baik bagi kita dari pandangan Allah?

Menentukan standar adalah hal penting agar kita tidak mudah merasa kekurangan ketika melihat nikmat yang orang lain miliki. Kulit sawo matang adalah nikmat, kulit putih pun juga nikmat, begitu juga dengan kulit yang hitam. Allah sudah menakar nikmat tersebut sesuai dengan takaran yang pas. Mensyukurinya akan membuat nikmat kita semakin bertambah.

refleksi diri dan rasa insecure

Refleksi Diri

Berbagai hal yang sampai pada kita pasti memiliki tujuan. Yaitu agar kita menjadikannya sebagai cermin untuk merefleksikan diri. Ketika melihat seorang ibu yang rajin memberikan kegiatan-kegiatan menyenangkan dan edukatif untuk buah hatinya, tanyalah pada diri kita, apa yang Allah kehendaki dari peran kita dalam mendidik anak? Tanyalah apakah kita sudah memenuhi hal-hal tersebut ataukah belum? Jika sudah apakah kita sudah berdiri pada landasan yang tepat? Jika belum, bagaimana cara kita untuk melakukannya?

Begitu juga ketika melihat pencapaian orang lain. Tanyakan apakah hal tersebut menjadi hal yang Allah kehendaki? Apakah hanya dengan jalan itu saja atau ada banyak jalan lain yang bisa mengantarkan kita pada Ridho Allah?

Teruslah munculkan pertanyaan-pertanyaan sehingga rasa insecure justru menghantarkan kita menjadi pribadi yang terus menerus memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

mellihat potensi diri

Mengenali Potensi Diri

Mengagumi pencapaian orang lain merupakan hal yang baik. Namun jangan mudah tertarik pada banyak hal dengan megharapkan hasil yang instan. Hal baru memang selalu menarik bagi siapapun. Karena itu adalah satu misteri yang belum kita pecahkan sendiri. Secara teori mungkin kita sudah terbayang akan mudah melakukan hal tersebut. Namun jika belum memiliki alasan yang kuat untuk memulai dan juga belum menemukan prinsip serta cara yang tepat, maka kita akan mudah putus asa.

Sebelum mencoba hal baru sebaiknya kita mencari tahu dulu potensi yang ada dalam diri kita. Terkadang ada potensi yang tak mampu kita lihat, namun teman baik di dekat kita akan bisa membantu kita untuk menyadarinya.

Setiap orang pasti memiliki potensi dalam dirinya. Menulis bagi seseorang adalah kemampuan yang Allah berikan untuk bisa mendatangkan ridho-Nya. Bagi sebagian yang lain mungkin Allah mudahkan lisannya sehingga bisa mendatangkan banyak kebaikan. Ada juga yang dengan tenaga dan kepintarannya Allah mampukan Ia untuk berkontrbusi dalam perubahan. Namun ada juga orang yang Allah berikan kesabaran dan komitmen untuk berjalan dalam kebenaran walau secara perlahan.

Berfokus dalam mengembangkan potensi diri kita akan membuat kepercayaan diri semakin meningkat dan semakin jauh dengan rasa insecure. Di sisi lain, melakukan improvisasi di luar zona nyaman yang selama ini dirasakan juga membuat diri kita semakin berkembang.

Lingkungan Yang Tepat

Berada di lingkungan yang tepat memberikan efek luar biasa pada diri kita. Kita perlu bergabung dengan komunitas-komunitas yang positif serta teman-teman yang bisa saling menguatkan dan menjaga dalam kebaikan. Tak hanya itu, bertemu teman yang tepat akan membantu kita melihat lebih jujur tentang kebaikan dan juga kekurangan diri dengan memberikan penilaian yang membangun serta tidak menghakimi. Semoga Allah mempertemukan kita dengan orang-orang yang demikian.

Penutup

Rasa insecure tidak selalu memberikan efek yang buruk. Jika dikelola dengan baik, perasaan insecure justru akan membuat kita menjadi pribadi yang terus memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Tak hanya itu, rasa insecure yang dikelola dengan baik akan membuat kita berdiri pada prinsip dan jalur yang tepat. Efeknya, perubahan yang kita lakukan bukan sekadar perubahan musiman yang hanya terjadi sebentar saja.

Tinggalkan komentar