Menemui Inner Child Menghapus Luka Pengasuhan

Dalam beberapa tahun terakhir pembahasan mengenai inner child masuk dalam jajaran topik teratas seputar dunia parenting. Apalagi jika dikaitkan dengan luka-luka pengasuhan. Apaka ada keterkaitan antara inner child, luka pengasuhan, dan keberhasilan pengasuhan berikutnya?

Kesalahpahaman Tentang Inner Child

Seringkali saya menemui opini dari orang sekitar mengenai inner child. Diantara sekian banyak orang yang tertarik dengan pembahasan ini, ternyata tak sedikit juga yang menolak untuk membahasnya. Ada beberapa alasan yang mendasari mengapa orang enggan untuk membahas tema inner child. Salah satu alasannya adalah inner child adalah perwujudan dari pengalaman pengasuhan yang memberikan trauma dalam benak anak dan dibawa hingga dewasa. Sehingga membahas inner child seolah terus menerus membawa dan menyalahkan takdir masa lalu.

“Anak tak pernah bisa memilih mau dilahirkan dari orang tua yang seperti apa” kalimat ini seringkali kita dengar. Membahas inner child dan luka pengasuhan sering diberi stigma negatif sebagai sikap yang kurang mensyukuri keadaan, sikap mendendam, dan menjadi seribu alasan untuk menyalahkan kondisi yang dialami saat ini karena dianggap sebagai buah kegagalan pendidikan di masa lalunya. Padahal inner child tidak selalu tentang kenangan buruk yang memberi efek negatif dalam hidup. Inner child bisa juga berupa kenangan indah yang membentuk karakter positif.

Setiap kejadian masa kecil yang dialami kemudian akan tersimpan dan akan menjadi happy inner child maupun unhappy inner child. Sayangnya sisi buruk inner child inilah yang sering dibahas dan dianggap sebagai kambing hitam dalam kekelaman hidup seseorang. Dalam satu sesi webinar yang diselenggarakan Dandiah Care beberapa hari yang lalu sayapun mengetahui cara bijak menyelesaikan luka pengasuhan agar pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan tak lagi meninggalkan inner child negatif dalam diri.

Pentingnya Memahami Inner Child

Inner child merupakan tema yang sangat penting untuk dipahami oleh siapapun baik bagi mereka yang telah menyandang gelar sebagai orangtua maupun bagi para calon orang tua. Orang tua sebagai pendidik dan pendamping tumbuh kembang anak memikul tugas yang cukup berat apalagi jika belum menyelesaikan masalah yang ada di dalam dirinya sendiri.

“Masa lalu ya sudah dibiarkan saja karena itu hanya masa lalu” sering mendengar kalimat seperti ini?

Memang benar masa lalu adalah bagian yang tidak pernah bisa kita ubah. Tapi tak berhenti disana, masa lalu justru akan membentuk persepsi dan sikap seseorang dalam menjalani hari-harinya di waktu yang akan datang. Meskipun jika seseorang memiliki kontrol diri yang baik dan terlihat baik-baik saja, namun kualitas resiliensi seseorang tersebut justru akan teruji ketika ia menghadapi hantaman, ujian, dan benturan dalam kehidupan.

Kasus yang terjadi baru-baru ini sangat mengejutkan bagi kita. Bagaimana seorang ibu di Brebes Jawa Tengah bisa menghabisi nyawa ketiga buah hati yang selama ini ia rawat dengan penuh cinta? Kenyataan ini seolah membuat kita tak habis bertanya kemana kasih sayang dan cintanya pada saat itu?

Dari banyak video yang bisa kita saksikan di media sosial, sang ibu berkata bahwa ia melakukan itu karena rasa sayangnya yang begitu besar pada anak-anaknya dan tidak menginginkan mereka hidup menderita. Dalam dukanya terlihat jelas bahwa Ia adalah seorang wanita yang penuh kasih sayang. Hingga dalam kondisi yang sangat terpuruk, yaitu ketika ujian datang berkali-kali padanya sementara tak ada yang berdiri di sampingnya untuk menguatkan jiwanya yang lemah, luka-luka lama kembali Ia rasakan dan sosok yang terluka di masa lalunya kemudian menguasainya.

Siapapun pasti tak ingin mengalami hal yang sama. Semoga Allah melindungi kita semua dan menyembuhkan luka masa lalu yang mungkin tidak kita sadari bahwa luka-luka itu masih terbawa hingga kini.

Menjadi Orang Tua Dengan Penuh Kesadaran

Percayalah bahwa tugas sebagai orang tua bukanlah tugas yang ringan namun juga bukan tugas yang melebihi batas kemampuan manusia. Memahami inner child, menyembuhkan luka, dan membentuk paradigma yang tepat untuk terus melanjutkan hidup dengan baik, bagi saya adalah satu rangkaian yang saling berkaitan satu sama lain.

Empat aspek kepribadian yaitu hati, pikiran, lisan, dan perbuatan harus saling terhubung dalam menjalani peran saat ini dan dalam situasi yang sedang berlangsung. Hal inilah yang disebut dengan mindfulness.

Situasi yang tak asing lagi bagi kita, yaitu ketika menjalani aktivitas tanpa menghadirkan keempat aspek tersebut dalam waktu yang bersamaan. Misalnya pikiran yang melayang-layang kepada peristiwa dan permasalahan lain. Begitu pula dengan pengasuhan yang sering dijalani dengan tanpa kesadaran atau unmindful parenting. Hal ini akan berpengaruh pada kualitas pengasuhan.

Tapi bagaimana jika jiwa dan pikiran yang seharusnya hadir saat menjalankan peran sebagai orang tua justru malah sedang terjebak pada peristiwa masa kecil yang tersimpan di alam bawah sadarnya? Tanpa disadari justru orang tua menjadi anak kecil secara bersamaan ketika ia sedang mendampingi anaknya. Seperti ibu yang frustasi dan tantrum ketika menghadapi balita yang sedang tantrum atau anak yang sedang dalam fase menolak perintah yang diberikan.

Definisi Inner Child

Dalam konsep psikologi, John Broadshow mendefinisikan istilah inner child sebagai pengalaman masa lalu yang tidak atau belum diselesaikan dengan baik. Setiap pengalaman di masa lalu baik itu pengalaman positif ataupun pengalaman negatif akan tersimpan dan menjadi inner child dalam diri orang dewasa.

Inner child dikenal juga dengan unfinnished business issue. Dalam konsep psikoanalisa dikatakan bahwa perilaku saat ini dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa di masa lalu. Sedangkan dalam spirit psikologi positif, masa lalu harus dimaknai dengan sungguh-sungguh sehingga kepribadian seseorang menjadi utuh  dan penuh untuk menyambut berbagai tujuan di masa depan. Spirit yang memberdayakan ini melewati tiga tahapan yaitu forgiveness, empowering, dan grateful.

Memahami inner child memiliki tujuan untuk menghapus luka masa lalu dan mengubah paradigma serta respon dalam menanggapi peristiwa masa lalu tersebut untuk kemudian menjadikan seseorang menjalani hidupnya dengan sungguh-sungguh dan berdaya.

Bertemu Dengan Inner Child Menghapus Luka Pengasuhan

Ketika membahas luka pengasuhan saya tergolong orang yang merasa tidak memilikinya. Namun selain orang yang terluka, juga terdapat orang yang merasa hampa, dan juga orang yang dipenuhi cinta.

Orang dengan luka pengasuhan yang begitu membekas cenderung bersikap abusive. Sedangkan di spektrum selajutnya terdapat orang-orang yang memilih mengalihkan perhatiannya pada hal-hal lain seperti akademis atau kehidupan sosial, terlihat bahagia padahal di dalamnya kosong. Orang-orang seperti ini juga bisa bersikap dingin dan sulit mengekspresikan dirinya. Kelompok yang ketiga adalah orang-orang yang berhasil memafkaan masa lalunya kebahagiaan itu benar-benar terpancar dengan tulus dari sosoknya yang penuh kehangatan.

Luka pengasuhan meliputi 7 tema berikut ini:

  1. Unwanted child
  2. Bullying yang berawal dari rumah
  3. Sibling rivalry
  4. Helicopter parenting
  5. Parent way
  6. Broken home
  7. Anak yang terlantar di rumah

Hal ini terjadi karena hak-hak yang belum terpenuhi secara utuh atau bahkan tidak terpenuhi sama sekali. Hak-hak tersebut antara lain:

  1. Hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang
  2. Hak untuk mendapatkan perlindangan dan penjagaan dari siksa neraka
  3. Hak untuk mendapatkan nafkah dan kesejahteraan
  4. Hak untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang baik
  5. Hak untuk mendapatkan cinta kasih
  6. Hak untuk bermain

Sekarang cek lagi yuk, apakah anak-anak kita sudah mendapatkan hak-haknya tersebut. Karena kita bukan terlahir dari keluarga berlimpah cinta, pastikan keluarga berlimpah cinta itu terlahir dari keluarga kecil kita saat ini.

Tinggalkan komentar